Dikerubungi segenap aktivitas pemeras otak dan kegiatan-kegiatan lain yang tak kunjung habisnya membuat otak terasa penat dan lelah. Tak ada yang dapat dilakukan selain mengesampingkan segala ego dan lelah demi menjunjung tinggi tanggung jawab dan kepercayaan. Tapi, hari ini, semua terasa berbeda. Semua keluh kesah dan cacian akhirnya berganti dengan rasa syukur yang tak henti-hentinya kepada Sang Maha Kuasa.

Pagi itu, sekitar pukul 09.00 WIB, aku dan segerombolan anak-anak dari SMAN 1 Depok riweuh mengurusi salah satu bagian dari rangkaian AKSI SMANSA 37, yaitu “Kunjungan Ke Sekolah MASTER”. Tunggu? Master? Apa itu master?

Dulu, awal-awal menjajaki Depok, aku juga tidak tahu apa itu Master. Setahuku, Master adalah sebutan untuk orang yang sudah professional dalam suatu bidang. Tapi ternyata Master adalah singkatan untuk : Masjid Terminal.

Memasuki kawasan sekolah Master tentu akan membuat kita tercengang. Bukan! Bukan karena jelek, kumuh, atau sebagainya! Justru karena keindahan dan kebersihan sekolah ini lah yang mampu membuat kita tercengang. Padahal, kawasan sekolah ini terletak di samping terminal, di bawah jembatan dan dikelilingi oleh rumah-rumah kumuh. Heran? Sungguh.

Kami disambut hangat oleh siswa-siswi Master. Mereka tersenyum indah ditengah teriknya matahari yang mulai menusuk, sementara kami –yang sedaritadi sudah berada di bawah AC—mengeluh kepanasan dan merutuki ‘kejam’nya matahari siang itu.

Rangkaian acara dimulai dengan sempurna dan tepat waktu. Sambutan demi sambutan mengawali mulainya acara. Setelah itu, dilanjutkan dengan sebuah penampilan dari siswa-siswi Master. Awalnya, ku pikir, mereka hanya menyanyikan nyanyian lagu biasa yang formal dinyanyikan untuk menyambut para tamu. Namun, lagi-lagi, semuanya tidak seperti yang kupikirkan. Mereka mendendangkan lagu karya salah satu siswa Master yang sudah lulus. Entahlah, mereka menganggap lagu itu apa. Sebuah mars, mungkin? Atau sebuah hymne? Terserahlah, yang penting, lagu itu sungguh menggugah pikiran dan menyayat hati. Penggalan demi penggalan lirik yang keluar dari suara parau mereka membuat beberapa tetes air mata membasahi pipi.

Berawal dari masjid menjadi tempat belajar

Di Master kami berubah menjadi anak yang berguna

MASTER tetaplah berdiri untuk selamanya

MASTER sekolahku

Guru kami tersayang

Terimakasih kami atas jasa baktimu

Terimakasih Tuhan, Kau telah merestukan untuk kami belajar

Meraih masa depan yang cerah”

Mereka mengakhiri lagu itu dengan tersenyum. Entah apa yang menjadi alasan mereka tersenyum, yang pasti, mereka ikhlas dan tulus melewati semua ini. Hidup sebagai pengamen jalanan, pemulung, kuli pasar, tapi tetap menjunjung tinggi pendidikan demi masa depan yang cerah.

Jika ditarik kembali ke kita, ke kehidupan remaja masa kini, yang penuh hedonisme dan ke-mager-an, malu kah kita, Sobat? Saat kita mencari beribu cara untuk bolos, beratus-ratus alasan untuk cabut, dan berpuluh-puluh pembenaran diatas semua nilai jelek akibat kemalasan kita, tak tahu kita bahwa ada sahabat kita yang sehabis mengangkut-angkut sampah masih rela belajar? Tak tahukah kita di tengah-tengah kelelahan mereka sehabis mencari sesuap nasi dengan menjual suara-suara parau mereka di angkutan umum demi angkutan umum, mereka tetap semangat belajar?

Aku kagum dengan mereka. Dengan segala ketulusan mereka. Dengan segala kegigihan mereka.

Waktu terus bergulir, melihat senyum tawa mereka membuat ku ikutan tersenyum. Entahlah, aku juga tak tahu bagaimana caranya tetap menjadi ‘sumber kebahagiaan’ orang lain ditengah-tengah kondisi hidup yang jelas-jelas tak dapat dibilang “cukup”. Mungkin benar, ada yang pernah bilang “Kebahagiaan berasal dari ketulusan.”

Aku masih sibuk dengan kameraku – menangkap setiap momen berharga bersama mereka– , tiba-tiba seorang anak menghampiriku.

“Kak, boleh pinjam, nggak?”ucapnya sambil menunjuk kamera SLR milikku. Aku kembali tersenyum melihat binar matanya. Sungguh, aku tahu dia sangat tertarik.

“Nih, sini sekalian aku ajarin.”ucapku sambil memberikan kamera itu ke tangannya. Dia tersenyum. Aku ikut tersenyum. Dia belajar meng-capture­ apapun yang ada di hadapannya. Dia banyak bertanya. Dia banyak berkata “ooh begitu” setelah mengerti.
image
“Eh, sini lu, gaya deh, sini gue poto-in”ucapnya sambil menunjuk anak kecil yang berada beberapa meter di hadapannya. Anak yang dimaksud itu pun menurut, dia melenggak-lenggokkan pinggangnya dan bergaya seperti model-model papan atas. Lagi-lagi, hal itu membuatku tertawa.

Sang fotografer cilik itu tersenyum puas melihat hasil fotonya dan dengan bangga memperlihatkan padaku. Aku baru hendak memuji, tetapi makanan sudah keburu menarik perhatiannya.

“Ayo kak, makan!”ucapnya sambil memberikan kamera itu, lalu pergi mengangkut makanan. Aku segera memegang kameraku yang hampir jatuh karena keterburu-buru-annya itu. Makanan memang selalu menarik,ya.

Aku mengambil jatah makananku, lalu duduk di samping dia, sekedar ingin menyampaikan pujian yang sempat terpotong tadi.

“Kamu hebat, loh!”ucapku sambil mengacungkan jempol tanganku, “emangnya kamu mau jadi fotografer?”lanjutku.

“Hahahaha iya, nanti kalo udah gede. Waktu itu saya pernah punya kamera lho, kak.”jawabnya, masih dengan keantusias-an yang ku yakin tidak akan pernah surut.

“Ohya? Sekarang mana kameranya?”

“Kan saya dapetnya pas lagi mulung ya, kak, jadinya dapetnya yang udah rusak. Terus kata Bapak, nanti mau diperbaikin. Di…. Apa sih namanya? Serpis kalo ngga salah.”

“Oalah…”ucapku. Kaget. Aku tidak menyangka kalau kamera yang dia maksud itu hasil ‘mulung’. Salah rasanya bertanya seperti itu.

“Saya pengen jadi kayak Kakak.”ucapnya lagi yang membuatku kembali terdiam. Ingin menjadi aku? Aku? Aku yang selama ini terus-terusan merutuki hidup dan mengeluh sepanjang masa? Aku benar-benar ditegur.

“Saya lagi nabung, Kak. Buat beli kamera di ITC. Kemaren, saya udah liat, harganya cuma 800 ribu. Kamera kaka berapa harganya?”ucapnya lagi, setelah aku lama terdiam.

“Semangat ya! Semoga bisa jadi fotografer handal.”ucapku, tanpa mengindahkan pertanyaan tentang harga kamera itu. Dia tersenyum, lalu kembali asik melahap makanannya.

Semoga kamu mampu meraih cita-cita kamu ya, Fotografer Cilik. Terimakasih atas sedikit arti hidup yang kamu berikan hari ini. Terimakasih…