Unspoken Mind

other time those unspoken words could have made all the difference

Maaf

Juli sudah berada di penghujungnya. Sebentar lagi Juli di tahun 2014 akan habis tertelan waktu dan hanya mampu menyisakan memori-memori yang tak tahu kapan habisnya di pikiran kita.

Hari ini, 28 Juli 2014, 11.17.

Televisi yang semula nya ramai menyiarkan berita-berita politik yang memekakkan telinga, kini sudah berganti haluan dengan memberitakan berita-berita tentang solat Ied, mudik, dan berbagai aktivitas para publik figur saat Lebaran hari pertama.

Aku sebagai yang tidak merayakan hari raya Idul Fitri ini hanya mampu menyaksikan hiruk-pikuk Lebaran dengan menyantap ketupat beserta kawan-kawannya yang lain. Tapi, sebuah momen yang menyenangkan ini juga kembali membuat ku berpikir tentang satu kata yang selalu diucapkan ketika Lebaran, yaitu “Maaf”

Teringat akan kerabat-kerabat yang mungkin pernah ku sakiti hatinya melalui tutur kata yang tidak ku jaga.
Teringat akan kelakuan-kelakuan ku yang mungkin menorehkan luka di hati para sahabat dan sanak keluarga.

Memang, sunggu ironis jika hanya satu atau dua hari dalam satu tahun, kita mengucapkan kata “maaf”.
Padahal, kita semua tahu, “maaf” sama pentingnya dengan “tolong” dan “terimakasih” yang memang harus menjadi kata-kata yang kita gunakan hari lepas hari.

Tapi, memanfaatkan momen ini, ingin ku panjatkan maafku bagi kalian yang mungkin pernah terluka dengan ucap dan laku-ku.

Dan doaku kepada Yang Maha Kuasa, seperti yang telah tertulis dalam Matius 6:12
“dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami”

Dan, ingat!

“Ucapan maaf tidak selalu berarti kau salah dan dia benar,
itu bisa berarti kamu menempatkan perdamaian dan kebahagiaan diatas ego-mu”

Selamat merayakan hari raya Idul Fitri 1435 H bagi teman-teman yang merayakan!

Rumah

Stasiun Kereta Palmerah, 14 Juni 2014, 14.52

Jika hati telah menemukan ‘rumah’nya, maka ia akan selalu pulang.

Terngiang lagu Home- Michael Buble di telingaku sambil menapaki jembatan menuju peron sebelah. Entah kenapa, hasrat untuk menulis ini muncul lagi setelah sekian lama mendekap dalam diam di pikiran. Mungkin sekarang hasrat itu sudah berani menampakkan dirinya untuk di”eksekusi”. Ya, ternyata pengaruh bertemu dengan orang-orang hebat di Kompas tadi berdampak banyak. Bertukar pikiran tentang blog. Berbincang tentang dunia jurnalistik, fotografi, traveling, dan kehidupan.
Bertemu dengan empat sosok hebat di Kompas; Mas Eko, Mas Dikdik, Kak Mugi, dan Kak Vinka.

Banyak hal yang dipelajari di Strategic Management Office kali ini; hobi-hobi kami, passion, minat, bakat, semua hal menarik tentang kami yang benar-benar “menolak diam”. Menyenangkan rasanya bergabung bersama mereka disini. Menyadari kembali “rumah” sesungguhnya bagiku.

Ya, menulis itu adalah rumah. Di rumah, kau bisa jadi sosok yang benar-benar jujur, apa adanya, bahkan seenaknya. Di rumah, kau akan terus merasa nyaman. Meskipun, tak dapat dipungkiri, kau kadang mencapai titik jenuh. Kau harus keluar, berpergian, mencari kesenangan, lalu… Kau akan selalu kembali ke rumah, kan? Menulis adalah rumah, bagiku. Mungkin, bagi mu juga?

Continue reading

“Saya Pengen Jadi Kayak Kakak.”

Dikerubungi segenap aktivitas pemeras otak dan kegiatan-kegiatan lain yang tak kunjung habisnya membuat otak terasa penat dan lelah. Tak ada yang dapat dilakukan selain mengesampingkan segala ego dan lelah demi menjunjung tinggi tanggung jawab dan kepercayaan. Tapi, hari ini, semua terasa berbeda. Semua keluh kesah dan cacian akhirnya berganti dengan rasa syukur yang tak henti-hentinya kepada Sang Maha Kuasa.

Pagi itu, sekitar pukul 09.00 WIB, aku dan segerombolan anak-anak dari SMAN 1 Depok riweuh mengurusi salah satu bagian dari rangkaian AKSI SMANSA 37, yaitu “Kunjungan Ke Sekolah MASTER”. Tunggu? Master? Apa itu master?

Dulu, awal-awal menjajaki Depok, aku juga tidak tahu apa itu Master. Setahuku, Master adalah sebutan untuk orang yang sudah professional dalam suatu bidang. Tapi ternyata Master adalah singkatan untuk : Masjid Terminal.

Memasuki kawasan sekolah Master tentu akan membuat kita tercengang. Bukan! Bukan karena jelek, kumuh, atau sebagainya! Justru karena keindahan dan kebersihan sekolah ini lah yang mampu membuat kita tercengang. Padahal, kawasan sekolah ini terletak di samping terminal, di bawah jembatan dan dikelilingi oleh rumah-rumah kumuh. Heran? Sungguh.

Kami disambut hangat oleh siswa-siswi Master. Mereka tersenyum indah ditengah teriknya matahari yang mulai menusuk, sementara kami –yang sedaritadi sudah berada di bawah AC—mengeluh kepanasan dan merutuki ‘kejam’nya matahari siang itu.

Rangkaian acara dimulai dengan sempurna dan tepat waktu. Sambutan demi sambutan mengawali mulainya acara. Setelah itu, dilanjutkan dengan sebuah penampilan dari siswa-siswi Master. Awalnya, ku pikir, mereka hanya menyanyikan nyanyian lagu biasa yang formal dinyanyikan untuk menyambut para tamu. Namun, lagi-lagi, semuanya tidak seperti yang kupikirkan. Mereka mendendangkan lagu karya salah satu siswa Master yang sudah lulus. Entahlah, mereka menganggap lagu itu apa. Sebuah mars, mungkin? Atau sebuah hymne? Terserahlah, yang penting, lagu itu sungguh menggugah pikiran dan menyayat hati. Penggalan demi penggalan lirik yang keluar dari suara parau mereka membuat beberapa tetes air mata membasahi pipi.

Berawal dari masjid menjadi tempat belajar

Di Master kami berubah menjadi anak yang berguna

MASTER tetaplah berdiri untuk selamanya

MASTER sekolahku

Guru kami tersayang

Terimakasih kami atas jasa baktimu

Terimakasih Tuhan, Kau telah merestukan untuk kami belajar

Meraih masa depan yang cerah”

Continue reading

© 2018 Unspoken Mind

Theme by Anders NorenUp ↑